HomeArtikelArtikel Pemahaman Tentang Autisme Terhadap Penerimaan Orang Tua Yang Memiliki Anak Autisme
Pemahaman Tentang Autisme Terhadap Penerimaan Orang Tua Yang Memiliki Anak Autisme
Written by Nurwachid Subchan Wijaya
Abstract:Many of the thing we need can wait, the autistic children cannot. To them we cant say ‘tomorrow’, their names are ‘today’. On the extraordinary education world in Indonesia, the autustic children problem included new problem, although on the extraordinary education science, that problem was talked by the extraordinary educator for so long. Such as Eugene Blueler on 1906, a psychiatrist from Swiss that use term “autistic” to describe an isolate behavior on schizophrenia. Whereas, Leo Kanner on 1943 was the first people that identificate to the amount of symptom to the people that isolate themeselves and have strong longing to live on their own environment. From that sign and symptom wasn’t inappropriate if autistic children got the same education service with mental retarded children on an extraordinary school. For the autistic children diagnose and assessment, the main factor that be notice for successful of curing management or helping the development of autistic children, was connected with the appropriation to certain specification of a problem with the weakness / lack on the children that must be identificated. Without the clear and appropriate information about the ability ang lack kevel on examination, will cannot be made an effective and appropriate program to help the development of the children.
Key word : knowledge of autistic, take of parent with autistic children
Setiap kehidupan manusia diawalai dengan beberapa tahap perkembangan. Perkembangan manusia berawal dari masa prenatal sampai menjelang akhir kehidupan yang dikenal dengan usia lanjut. Dalam setiap periode perkembangan terdapat berbagai tugas perkembangan yang harus dilalui dan stiap aspek perkembangan baik fisik, emosi, intelegensi maupun sosial. Identidikasi dalam setiap perkembangan anak sejak awal penting untuk diketahui orang tua (ibu), karena setiap periode perkembangan anak akan menentukan perkembangan selanjutnya.
Adapun kenyataan di lapangan pada saat ini kesibukan orang tua yang semuanya bekerja membuat peran dalam mendidik anak cenderung berkurang yang mengakibatkan kurangnya ikatan emosional dengan anaknya.
Alamat Korespondensi:
Nurwachid Subchan Wijaya, Fakultas Psikologi
Universitas Wisnuwardhana Malang.
Jl. Danau Sentani 99 Malang.
Karena peran orang tua banyak dialihkan pada pembantu, baby sister, dan pengasuh. Hal lain akibat dari kurang perhatian terhadap perkembangan anak, yakni terlambatnya identifikasi perkembangan anak.
Saat ibu menyadari keterlambatan perkembangan anak maka ibu segera membawa anaknya untuk konsultasi dengan dokter atau psikiater anak. Bila di diagnosis autisme, biasanya didasari tanda-tanda seperti tidak pernah mentap atau tersenyum ketika diajak bercanda, tidak bisa bermain dengan anak lainnya, lebih tertarik pada benda dibandingkan dengan manusia, tidak ada kontak mata, kesulitan berkomunikasi, menunjukkan amarah yang me-ledak-ledak disertai temper tantrum(ketidakmampuan anak untuk mengkomunikasikan keinginan maupun kebutuhan), melukai diri sendiri (self abuse), hiperaktivitas, dan tingkah laku motorik yang berulang-ulang (Jawa Pos, Agustus 2005).
Diharapkan itu tidak hanya melihat kesehatan anak secara fisik saja namun juga harus memperhatikan kemajuan (Progress) dan keterlambatan (Delayed) atau kemunduran (Regresi) perkembangan motorik, fisik dan kemampuan berbahasa yang terjadi pada anak. Penyandang autisme secara fisik tidak berbeda dengan anak normal, tetapi bila diperhatikan secara cermat barulah terlihat perbedaanya dalam aksi-reaksi atau stimulus-respon terhadap situasi umum. Mereka menunjukkan reaksi yang tidak biasa atau bahkan tidak menunjukkan reaksi sama sekali.
Orang tua akan banyak memperoleh pengetahuantentang autisme sehingga orang tua akan merasa betapa pentingnya pemahaman tentang autisme yang pada akhirnya dapat mengetahui bagaimana memberikan perlakuan pada anak penyandang autisme.
Memahami anak memang memerlukan informasi , dibutuhkan waktu untuk memikirkan fakta-faktanya dan mengaplikasikan pengetahun tersebut pada setiap anak. Dibutuhkan kemauan untuk mengijinkan fakta-fakta tersebut meresak kedalam hati sehingga akan menerima dan menyayangi bahkan anak yang paling sulit sekalipun (Grace Ketterman Dalam Kasih 2006). Seperti ungkapan Gabriel Mistral yakni “ Many of the things we need can wait, theautis children can not, to them we cant say ‘tomorrow’ their names are ‘today’”.
Pemahaman Tentang Autisme
Pemahaman adalah perilaku individu yang banyak dipengaruhi oleh faktor pengetahuan. Pemahaman tentang autisme merupakan pengetahuan yang mencakup segala informasi yang berhubungan dengan gangguan pada anak dalam perilaku, bahasa, dan sosialisasi yang perlu diketahui oleh orang tua.
Pengertian
Autismeberasal dari kata “auto’ yang berarti sendiri. Penyandang autisme seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri. Istilah autisme baru diperkenalkan sejak tahun 1913 oleh Leo Kanner, sekalipun kelainan itu sudah ada sejak berabad-abad yang lampau. Autisme bukan suatu gejala penyakit tetapi berupa sindroma (kumpulan gejala) dimana terjadi penyimpangan perkembangan sosial, kemampuan berbahasa, dan kepedulian terhadap sekitar sehingga anak autisme seperti hidup dalam dunianya sendiri (Handojo, 2003).
Autisme adalah suatu keadaan dimana seseorang anak berbuat semaunya sendiri baik cara berfikir maupun berperilaku. Keadaan ini mulai terjadi sejak usia masih muda, biasanya sekitar usia 2-3 tahun. Autisme bisa mengenai siapa saja, baik sosio-ekonomi mapan maupun kurang, anak-anak ataupun dewasa dan semua etnis (Faisal Yatim dalam Kasih, 2006).
Autisme merupakan sindroma yang sangat kompleks. Ditandai dengan ciri-ciri kurangnya kemampuan interaksi sosial dan emosional, sulit dalam komunikasi timbal balik, minat terbatas, dan perilaku tak wajar disertai gerakan berulang tanpa tujuan (stereotipic). Gejala ini biasanya telah terlihat sebelum usia 3 tahun ( Jawa Pos, Agustus 2005). Handojo menyebutkan 2 jenis perilaku autisme, yaitu:
·Perilaku Eksesif (Berlebihan)
Yang termasuk perilaku eksesit adalah hiperaktif dan tantrum (mengamuk) berupa menjerit, menyepak, menggigit, mencakar, memukul, dan sebagainya. Di sini juga sering terjadi anak yang menyakiti diri sendiri (self abuse).
·Perilaku Defisit (Berkekurangan)
Yang ditandai dengan gangguan bicara, perilaku sosial kurang sesuai, defisit sensoris sehingga di kira tuli, bermain tidak benar dan emosi yang tidak tepat misalnya tertawa tanpa sebab, menangis tanpa sebab, dan melamun.
Berdasarkan waktu munculnya gangguan ada dua jenis autisme, yaitu:
-Autisme sejak masa bayi
Yaitu sejak bayi anak sudah menunjukkan perbedaan-perbeda-an dibandingkan dengan anak non autistik
-Autisme regresif
Yaitu ditandai dengan kemunduran kembali perkembangan dan kemampuan yang diperoleh jadi hilang.
Gejala-gejala
World Health Organization (WHO) telah merumuskan kriteria diagnosis autisme. Rumusan ini dipahami diseluruh dunia yang dikenal dengan ICD 10 (International Classification Disease) 1993. rumusan diagnosi lainnya yang dapat dipakai menjadi panduan adalah DSM IV (Diagnostic Statistical Manual) 1994 yang dibuat oleh Group Psikiatri Amerika Serikat. Isi ICD 10 maupun DSM IV sebenarnya sama.
DSM IV
ICD 10
1.Autistic Disorder
2.Pervasive Developmental Disorder Not Otherise Specified (PDD – NOS)
3.Rett’s Disorder
4.Chilhood Disintegrative Disorder
5.Tidak ada
6.Asperger’s Disorder
7.PPD – NOS
8.PDD - NOS
1.Chilhood Autism
2.Atpical Autism
3.Rett’s Syndrome
4.Other Chilhood Disintegrative Disorder
5.Overactive Disorder With Mental Retardation With Stereotyped Movement
6.Asperger’s Syndrome
7.Other Perpasive Developmental Disorder
8.Pervasive Developmental Disorder, Unspecified
Kriteria DSM IV untuk autisme masa kanak
ØHarus ada sedikitnya 6 gejala dari (1), (2) dan (3) dengan minimal 2 gejala dari (1) dan masing-masing I gejala dari (2) dan (3).
·Gangguan kualitatif dalam interaksi social yang timbale balik. Minimal harus ada 2 gejala dari gejala-gejala dibawah ini:
-Tak mampu menjalin interaksi social yang cukup memadai: kontak mata kurang, ekspresi muka kurang, hidup, gerak-gerik yang kurang setuju.
-Tidak bisa bermain dengan teman sebaya
-Tak dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain
-Kurangnya hubungan social dan emosional yang timbale balik
·Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi seperti ditunjukkan oleh minimal satu dari gejala-gejala dibawah ini:
-Bicara terlambat atau bahkan sama sekali tak berkembang (dan tidak ada usaha untuk mengimbangi komunikasi dengan cara lain tanpa bicara)
-Bila bisa bicara, biasanya tidak dipakai untuk komunikasi
-Sering menggunakan bahasa aneh dan diulang-ulang
-Cara bermain kurang variataif, kurang imajinatif, dan kurang bisa meniru
·Suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dari perilaku, minat dan kegiatan. Sedikitnya harus ada satu dari gejala dibawah ini:
-Memperthankan satu minat atau lebih, dengan cara yang sangat khas dan berlebih-lebihan.
-Terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistic atau rutinitas yang tidak ada gunanya
-Ada gerakan-gerakan aneh yang sangat khas dan diulang-ulang.
-Sering kali sangat terpukau pada bagian-bagian benda.
ØSebelum umur 3 tahun tampak adanya keterlambatan atau gangguan dalam bidang:
-Interaksi sosial
-Bicara dan berbahasa
-Cara bermain yang kurang variatif
ØBukan disebabkan oleh sindroma Rett atau Gangguan Disintegratif Masa Kanak
Adapun diagnosis banding autisme ini meliputi:
-Semua Gangguan pervosit lain
-Gangguan sosio emosional sekunder
-Gangguan attachment reaktif
-Keterbelakangan mental disertai gangguan emosional dan perilaku
-Penyakit gangguan jiwa jenis schizophrenia tahap awal
-Pada schizophrenia berat bisa timbul gejala autisme
-Gejala autisme dan kemunduran mental
-Sindroma Rett
Penyebab
Penyebab autisme sendiri masih belum jelas benar bagaimana terjadinya gejala (potologi) dari autisme. Beberapa petunjuk mengarah pada kelainan di otak kecil (cerebellum), kelainan organik seperti phenyhetonarin, tuberoussclerosis, fragile x syndrome, congenital rubella syndrome,dan keracunan timbal (Pb). Namun pada kebanyakan kasus anak dengan autistic tidak dapat ditemukan dasar penyebabnya. Beberapa faktor yang disebut sebagai pemicu adalah:
·Faktor Genetika
Para ilmuwan telah lama mengira bahwa autisme adalah gangguan genetika tetapi riset gen tidak mampu mengidentifikasikan satu kromosom spesifik atau lokasi. Pada suatu gen yang merupakan area utama kerusakan pada autisme, secara fisik anak-anak autisme jarang sekali yang memiliki kelainan pada tubuh atau wajah seperti anak-anak yang mengalami kerusakan kromosom misalnya down syndrome.
·Zat kimia beracun
Sebuah laporan dari National Academics of Science (NAS) menyatakan bahwa kombinasi dari neorotoksin dan faktor-faktor genetika berjumlah mendekati 25% dari seluruh masalah tumbuh kembang, termasuk autisme. Salah satu bahan kimia yang harus diwaspadai dan dijauhi adalah Polychorinated Biplenyis (PcBs) dan pestisida organofosfat. Bayi yang memiliki PcBs dalam jumlah tertentu memperlihatkan tingkat kemampuan yang lebih buruk dalam tes pengenalan muka secara visual, ketidakmampuan bila terjadi distraksi dan tes kecerdasan.
·Kontaminasi logam berat
Sistem imun tubuh bayi rentan secara genetika, dapat diserang oleh logam berat seperti:
Timbal (Pb)
Penggunaan cat tembok yang mengundang timbal, sangat berisiko pada anak-anak. Keracunan timbal, secara social menghancurkan masyarakat, khususnya anak-anak karena pengaruh timbal dapat mengurangi tingkat kecerdasan anak.
Mercuri (Hg)
Salah satu sumber mercuri yang dapat mempengaruhi masa pra kelahiran adalah mercuri yang terdapat di dalam amalgam yang digunakan untuk tambal gigi pada wanita yang sedang hamil.
·Vaksinasi
Pada saat sekarang pemberian vaksin dalam kombinasi three inone yaitu vaksin compak (measles), vaksin gondok (mumps) dan rubella yang biasa disebut MMR dinyatakan sebagai penyelamat jutaan nyawa tetapi berdasar data patologi usus halus yang berhubungan dengan jenis virus dari vaksin MMR dapat juga berperan sebagai kontributor autisme regresif.
·Virus
Virus herpes, varicella, virus epstern bass dan human herpes virusdikaitkan dengan munculnya gangguan kemampuan verbal, kejang-kejang demielinasi dan karakterisatik spectrum autisme lainnya.
·Gluten dan Casein
Banyak autisme memiliki ketidaksamampuan dalam mencerna gluten dan casein. Gluten adalah campuran protein yang terkandung pada gandum sedang casein adalah protein susu.
·Jamur
Pertumbuhan jamur candida yang berlebihan dapat menjadi penyebab utama dari banyak tingkah laku yang tidak pantas dan masalah kesehatan yang terlihat pada anak autistic
·Usus Berpori
Racun-racun yang diproduksi jamur dapat mengebor lubang-lubang pada dinding usus. Pada akhirnyas substansi racun ini dapat melukai dan menembus sawar darah otak dengan mencampuri aliran nutrisi ke otak menyebabkan rusaknya kesadaran, kemampuan kognitif, kemampuan berbicara atau tingkah laku.
Penanganan
Peran orang tua dalam penyembuhan anak penderita autisme sangatlah penting. Selain harus melakukan pengobatan secara medis, orang tua juga dituntut bijak dan sabar menghadapi kondisi anak. Sebagian besar karena orang tua tidak bijak dan sabar menghadapi kondisi anak. Sebagian besar karena orang tua tidak paham dengan penyakit anaknya. Mereka hanya mengandalkan terapi tanpa berusaha mencari tahu berbagai hal yang baik dan yang buruk selama proses penyembuhan (Alia dalam Kasih, 2006)
Menurut Handojo (2003) sangat perlu dipahami oleh para orang tua bahwa terapi harus dimulai sedini mungkin sebelum susia 5 tahun. Perkembangan paling pesat dari otak manusia terjadi pada usia 2-3 tahun. Oleh karena itu penatalaksanaan terapi setelah usia 5 tahun hasilnya berjalan lebih lambat.
Jenis-jenis terapi :
-Terapi Perilaku
Berbagai jenis perilaku telah dikembangkan untuk mendidik anak-anak dengan kebutuhan khusus termasuk penyandang autisme, mengurangi perilaku yang tidak lazim dan menggantinya dengan perilaku yang bisa diterima pada masyarakat. Terapi perilaku sangat penting untuk membantu para anak-anak ini untuk lebih bisa menyesuaikan diri dalam masyarakat.
Bukan saja gurunya harus menerapkan terapi perilaku pada saat belajar, namun setiap anggota keluarga dirumah harus bersikap sama dan konsisten dalam menghadapi anak-anak dengan kebutuhan khusus ini. Tetapi perilakuterdiri dari terapi okupasi, tetapi wicara, dan menghilangkan perilaku yang asosial.
oTerapi Okupasi
Sebagian penyandang kelainan perilaku, terutama autisme juga mempunyai perkembangan motorik yang kurang baik. Gerak-geriknya kasar dan kurang luwes bila disbanding dengan anak-anak seumuranya. Pada anak-anak ini perlu diberi bantuan terapi okupasi untuk membantu menguatkan, memperbaiki koordinasi dan ketrampilan ototnya. Otot jari tangan misalnya sangat penting dikuatkan dan dilatih supaya anak bisa menulis dan melakukan semua hal yang membutuhkan keterampilan otot jari tanganya seperti menunjuk, bersalaman, memegang raket, memetik gitar, main piano, dan sebagainya.
oTerapi Wicara
Bagi penyandang autisme yang mempunyai keterlambatan bicara dan kesulitan berbahasa. Speech Therapy adalah suatu keharusan tetapi pelaksanaannya harus dengan metode ABA (Applied Behaviour Analysis)
oSosialisasi dengan menghilangkan perilaku tak wajar
Untuk menghilangkan perilaku yang tidak dapat diterima oleh umum, perlu dimulai dari kepatuhan dan kontak mata. Kemudian diberikan pengenalan konsep atau kognitif melalui bahasa reseptif dan ekspresif. Setelah itu barulah anak dapat diajarkan hal-hal yang bersangkutan dengan perilaku dan tata karma, dan sebagainya. Agar seluruh perilaku asosial itu dapat ditekan, maka penting sekali diperhatikan bahwa anak juga jangan sampai dibiarkan sendirian, tetapi harus selalu ditemani secara interaktif. Seluruh waktu pada saat anak bangun perlu diisi dengan kegiatan interaktif, baik yang bersangkutan dengan akademik, Bantu diri, keterampilan motorik, sosialisasi, dan lain-lain. Jangan lupa sediakanlah dan berikanlah imbalan yang efektif.
Obat-obatan juga dipakai terutama untuk penyandang autisme, tetapi sifatnya sangat individual dan perlu berhati-hati. Dosis dan jenisnya sebaiknya diserahkan kepada dokter spesialis yang memahami dan mempelajari autisme (biasanya dokter spesialis jiwa anak).
-Sosialisasi ke sekolah regular
Di lingkungan sekolah reguler anak-anak ini dapat dilatih untuk kemampuan berkomunikasi dengan anak-anak sebayanya. Sedangkan materi akademiknya jika mengalami kesulitan, tetap dapat diajarkan secara one onone.perlu diingat pula bahwa bagi anak yang autisme yang masuk sekolah reguler harus di “bayangi” terus oleh shadower atau helper atau prompter.
-Sekolah Khusus
Di dalam pendidikan khusus ini beiasanya telah diterapkan terapi perilaku, terapi wicara, dan terapi okupasi. Penerapan ramuan tersebut merupakan kelompok-kelompok materi dan aktivitas yang diberikan dengan metode Lovaas. Pendidikan anak dengan kebuthan khusus tidak dapat disamakan dengan pendidikan normal atau regular, karena kelainannya sangat bervariatif dan usia mereka juga berbeda-beda.
Namun menurut Hembing, faktor utama kesembuhan anak sangat dipengaruhi peran orang tua. Orang tua anak penderita autisme dituntut lebih banyak tahu dan lebih bersahabat dengan anak. Cara ini bisa mempercepat proses penyembuhan (Alia dalam Kasih, 2006).
Penerimaan Orang Tua Yang Memiliki Anak Autisme
Peran orang tua dalam penyembuhan anak penderita autisme sangatlah penting. Ibu sebagai salah satu dari orang tua anak autisme sangat berberan penting dalam mengetahui perkembangan anak. Hal ini berkaitan dengan sikap penerimaan ibu terhadap anak autisme yang ditunjukkan dalam perilaku menghadapi anak autisme. Sikap menerima setiap anggota keluarga sebagai langkah lanjutan pengertian yaitu berarti dengan segala kelemahan, kekurangan, dan kelebihanya ia seharusnya mendapat tempat dalam keluarga. Setiap anggota keluarga berhak atas kasih sayang orang tuanya (Singgih D. Gunarsa, 2003)
Penerimaan ibu terhadap anak autisme memerlukan pengetahuan yang luas tentang auisme, sehingga ibu akan memahami arti dari autisme yang sebenarnya. Sesuai dengan pemahaman seorang ibu, maka ibu akan meerima kondisi anak dengan memberikan kasih sayang, perhatian, dan memahami perkembangan anak sejak dini. Jadi pemahaman tenang autisme terhadap penerimaan ibu yang mempunyai anak autis perlu dan penting.
Anak “special needs” atau anak dengan kebutuhan khusus termasuk anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan perilakunya. Perilaku anak-anak ini yang terdiri dari wicara dan okupasi tidak berembang seperti anak-anak pada umumnya. Paahal perilaku ini penting untuk komunikasi dan sosialisasi. Sehingga bila hambatan ini tidak diatasi dengan cepat dan tepat maka proses belajar anak-anak tersebut juga akan terhambat. Oleh karena itu sangat penting untuk melakukan deteksi sedini mungkin bagi anak-anak ini.
Apabila orang tua sudah melakukan detekdi dini maka diharapkan para orang tua tersebut melakukan intervensi secara dini pula dengan metode yang ada saat ini, diamtaranya adalah dengan meng-gunakan metode Lovaas atau ABA (Applied Behavioral Analysis).Metode ini dipilih karena beberapa alasan, antara lain karena metode ini sangat terstruktur sehingga dengan mudah dapat diajarkan kepada terapis yang akan menangani anak autis. Materi yang akan diajarkan dengan metode ini juga telah tersedia walaupun harus diterjemahkan dan disesuaikan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Materi ini diambil dari buku “Behavioral Intervention for Young Children with Autism” dari Catherine MauriceAdapun kurikulum lain adalah dari Ron Mc Leaf ( A Work In Progress) dan Raymond G. Romanczyk (The Bridges Models). Selain metode ABA ada metode lain seperti DTT (Discrete Trial Training), LEAP (Learning Experience and Alternative Program for Preschooler and Parent), Floor Time, OptionTherapy, Daily Life Therapy, Holding Therapy, dan TEACHH (Teratment andEducation of Autistic and Related Communication Handicapped Children).
Program terapi anak-anak ini bukan suatu program yang singkat. Dibutuhkan waktu cukup lama yaitu kurang lebih 2-3 tahun sehingga seluruh keluarga yang terlibat harus termotivasi dengan baik dan menyediakan waktu secara sukarela. Senua yang terlibat harus menyadari sepenuhnya tentang apa, me-ngapa, dan bagaimana autisme itu ditangani. Mereka hatus menangani anak mulai dari anak bangun sampai anak tidur, karena anak-anal ini tidak noleh sendiri dan harus ditemani secara interaktif. Hanya dengan demikian kita dapat mengisi kekurangan perilakunya dan meminimalkan gejala gangguan perilakunya, serta menjadikan “normal” kembali.
Secara akademik materi dalam metode ini tekah mencakup perilaku, sosialisasi, dan akademik sebagai persiapan masuk ke sekolah reguler. Jadi apabila anak mampu menguasai seluruh materi dari dasar, intermediate, dan advanced dari metode tersebut, maka anak siap masuk sekolah reguler. Tetapi bukan berarti tugas kita selesai. Mereka tetap perlu dipantau dan diberi arahan menghadapi lingkungan baru.
Sekali lagi sengat perlu dipahami oleh para orang tua bahwa terapi harus dimulai sedini mungkin sebelum usia 5 tahun. Perkembangan paling pesat dari otak manusia terjadi pada usia sebelum usia 5 tahun. Puncaknya terjadi pada usia 2-3 tahun. Oleh karena itu penatalaksanaan terapi setelah usia 5 tahun hasilnya berjalan lebih lambat. Sekalipun demilian tidak ada pilihan lain, anak usia lebih dari 5 tahun tetap perlu diterapi perilakunya (Premitawati, 2005).
Intensitas waktu yang ideal adalah 40 jam dalam seminggu. Jadi rata-rata 8 jam sehari. Tetapi untuk mencapai hasil yang maksinal anak harus ditangi selama anak bangun. Persyaratan ini sangat berat untuk siapapun. Oleh karena itu tidak mungkin terapi anak hanya dilakukan oleh satu orang saja. Jaji disamping terapi di sekolah khusus maka penanganan di rumah justru lebih lama. Untuk ini diperlakukan suatu kerja sama yang baik dan terkoordiinasi serta dipantau secara intensif agar seluruh program dapat berjalan dengan lancar dan tidak buang waktu.
Banyak orang tua anak dengan kebutuhan khusus ini menyerahkan penanganan anaknya pasrah penuh pada institusi puaet terapi atau sekolah khusus. Mereka tidak mau tahu lagi dengan urusan pendidikan anaknya. Mereka hanya menyediakan biaya dan pra-sarananya saja. Tetapi banyak juga me-reka selalu ingin mencampuri proses terapi yang sedang berlangdung, sehingga anak-anak ini terdistraksi (teralih) kon-sentrasi dan perhatiannya dari materi. Kelancaran proses terapi menjadi sangat terganggu bahkan terhenti. Kedua sikap ekstrem ini sangat nerugikan dan menghambat kemajuan terapi.
Penanganan anak autisme memerlukan waktu yang lana, bahkan bisa longlife, sangat membutuhkan peranan dan partisipasi aktif dari para orang tua anak. Kemudian yang perlu diatur adalah waktu setiap harinya. Waktu sangat pen-ting dan berharga terutama bagi anak yang masih kecil. Jangan ada hari terlewati tanpa interaksi dengan anak. Artinya jangan seharipun anak diniarkan main sendiri atau dibiarkan menonton TV sendiri sehingga para orang tua dan dewasa dapat bersantai dengan bebas.
Oleh karena itu para orang tua sebaiknya huga mengetahui apa yang harus diberikan kepada anaknya dan ba-gaimana lelampuan anaknya dalam menyerap materi yang diajarkan (Pre-mitawati, 2005).
Peran orang tua dalam pendidikan anak autis lanjutin sangat penting. Pertama adalah pekerjaan rumah, kedua gemeralisasi yaitu mentranfer kegiatan yang dipelajari di sekolah ke tempat lain. Hal ini mem-butuhkan peran dari orang tua. Juga mengenai sosialisasi orang tua harus ikut berperan sebab waktu di sekolah hanya sekitar 6 jam saja, sisa waktu lebih ba-nyak di rumah karena itu kerja sama antara orang tua dam guru perlu sekali. Orang tua adalah orang yang paling kenal dengan anak, jadi guru, dolter, dan terapis harus menfengar infprmasi dari orang tua anak autis. Bersama dengan guru.orang tua mencoba mencari keseimbangan antara harapan dan kenyataan. Sangat penting ada program kun-jungan rumah, orang tua membantu mempersiapkan jika ada perubahab di sekolah (Vrugteveen dalam Ginanjar 2000).
Agar dapat menikmati hidup, anak autis juga perlu diajarkan untuk bermain secara benar, berinteraksi dengan teman-temannya, dan mengungkapkan emosi-emosinya. Mereka juga perlu dipenuhi kebutuhan-kebutuhannya akan kasih saying tak bersyarat, perhatian, penerimaan, bimbingan, dan penghargaan dari orang lain. Bila anak-anak autisme merasa bahwa orang tua dan orang-orang sekitarnya dapat memahami dan menerima keterbatasan yang mereka miliki, dan maka mereka akan lebih tertarik untuk berinteraksi. Sebaliknya bila mereka merasa bahwa lingkungannya ingin merubah dirinya dan tidak menghargai keunikan-nya atau bila mereka hanya memperolah kasih saying bila melakukan sesuatu dan berprestasi maka mereka akan merasa tertekan dan menutup diri.
Peran orang tua dan guru/terapis dalam mengembangkan potensi amak secara menyeluruh sangatlah besar. Dibutuhkan usaha dan kerja keras tanpa henti serta kesediaan untuk men-coba berbagai cara untuk menggali potensi anak dan mengembangkannya seoptinal nungkin. Dalam hal ini penting sekali adanya kerja sama yang baik antara suami-istri serta anggota keluarga lainnya. Hangan samapi anak memperolah perlakuan yang berbeda-beda karena orang tua tidak berhasil mencapai kata sepakat tentang bagaimana cara mendidik anak. Bila dapat terjalin kerja sama serta terdapat penerapan disiplin yang sama dan konsisten di antara seluruh anggota keluarga, pengasuh, terapis, dan pihak sekolah, maka perkembangan anak tentunya akan lebih pesat dan terarah (Ginanjar, 2000).
Tahapan yang tidak kalah pentingnya dalam kehidupan anak autis adalah bagaimana orang tua mengatur kehidupannya di luar sesi terapi. Akan terjadi perbedaan yang sangat luar biasa bila seorang anak diterapi dan dipantau terus menerus oleh orang tua sehingga ia hidup secara disiplin, teratur, tetapi penuh dengan kesempatan untuk mencoba dengan hal baru, sementara anak lain hidupnya dari satu ruang terapi ke ruang terapi lain. Tetapi di luar iru men-jalani kehidupan yang sangat bebas tanpa arah.
Berbagai bukti sudah menunjukkan bahwa tata laksana perilaku yang hanya dilaksanakan di ruang terapi dan tidak digeneralisasikan tidak terlalu memnerikan hasil yang memuaskan. Sebaliknya banyak kejadian dimana seorang anak tidak menjalani terapi secara intensif (karena keterbatasan orang tua) namun diasuh dengan sangat baik oleh orang tuanya hasilnya sangat tidak mengecewakan, mengingat bahwa waktu yang dihabiskan di rumah tentu lebih banyak daripada di ruang terapi.
Perlu diingat pula bahwa sesi terapi ini sebaiknya dilakukan secara intensif namun terkendali. Maksudnya dipastikan jaswal kehidupan anak berlangsung seimbang antara terapi, bernain bebas, dan bersantai. Jangan santai orang tua panik dengan ketinggalan anak sehingga terlalu memusatkan perhatian pada perkembangan kognisi dan melupakan aspek perkembangan anak secara utuh.
Apa yang dapat dilakukan di luar sesi terapi oleh keluarga banyak sekali. Paling tidak anggota keluarga dapat membimbing anak untuk melakukan eksplorasi dunia secara intensif dengan teknik yang khusus. Belumlagi bila orang tua menjalani terapi lalu di rumah juga mengajarkan anak untuk menerapkan pengetahuannya tersebut. Atau orang tua membantu anak menerapkan pengetahuan itu di lingjungan luar rumah se-perti di tempat umum. Dengan demikian anak berkembang secara utuh dan pengetahuannya segera dapat diaplikasikan di lingkungan masyarakat. Orang tua juga dapat memastikan bahwa anak memiliki ketrampilan sosial, kemampuan bina diri, dan kemandirian sesuai dengan tahap perkembangannya. Selain itu orang tua harus mengupayakan kemampuan adaptasi dengan lingkungan baru dan itu sulit diperoleh si ruang terapi yang cenderung rutin dan sama.
Menurut Grace Ketterman (dalam Kasih 2006), memahami anak memerlukan informasi dan waktu untuk memikirkan fakta-faktanya dan meng-aplikasikan pengetahuan tersebut pada setiap anak. Pemahaman autisme merupakan pengetahuan yang mencakup segala informasi yang berhubungan dengan autisme yaitu merupakan gangguan perkembangan pada anak dalam hal perilaku, sosialisasi, dan bahasa yang harus diketahui oleh orang tua. Ibu se-bagai salah satu orang tua anak yang autisme sekiranya membutuhkan pengetahuan tentang autisme dan dengan begitu sang ibu akan bisa memahami dan mengetahui tentang autisme.
Singgih D. Gunarsa menyatakan bahwa sikap menerima setiap anggota keluarga sebagai langkah kelanjutan pengertian yaitu dengan segala kelemahan dan kelebihannya ia seharusnya mendapat tempat dalam keluarga. Setiap anggota keluarga berhak atas kasih sayang orang tuanya. Penerimaan ibu terhadap anak yang autis memerlukan pengetahuan yang luas tentang autisme sehingga ibu akan me-mahami arti dari autisme yang sebenarnya. Sesuai dengan pemahaman yang dimiliki seorang ibu, maka ibu akan menerima kondisi anaknya dengan memberikan kasih sayang, perhatian, dan mampu untuk memahami perkembangan anak sejak dini. Penerimaan ibu tidak hanya secara moral saja, tetapi dapat diaplikasikan ke dalam bentuk perilaku yang memberikan pendidikan pada anaknya dengan menyekolahkan pada sekolah khusus autisme atau lembaga pusat terapi anak kebutuhan khusus. Pendidikan anak autisme tidak hanya dari sekolah atau terapi saja tetapi juga dibutuhkan peran orang tua dan anggota keluarga di rumah. Adapun pendidikan di rumah adalah menyesuaikan dengan tugas perkembangan anak dan melanjutkan materi dari sekolah khusus autisme.
Apabila orang tua kurang me-miliki pemahaman tentang autisme maka bisa berakibat kurangnya perhatian pada anak dan menganggap anak mengalami cacat atau bahkan tidak bisa berbicara selamanya.Orang tua adalah penentu kehidupan anak sebelum dan sesudah dilahirkan. Karena itu adalah tanggung jawab orang tua sepenuhnya untuk menentukan apakah akan menggunakan teknik khusus dalam mendidik anak-anak autis atau tidak. Yang jelas anak-anak ini tidak meminta untuk dilahirkan. Mereka ada karena kita para orang tua. Mereka tidak pernah meninta untuk menjadi anakdengan penyandang autisme dan menjadi penyandang autisme tidaklah mudah.
Apapun metode dan terapi yang dipilih penanganan harus terpadu, ter-struktur,dan terorganisir. Pendidikan me-mang penting, tetapi penanganan lain harus pula dipertimbangkan sesuai dengan kebutuhan dan usia anak. Terimalah keadaan anak apa adanya lengkap dengan kelebihan dan kekurangan sehingga penanganan sesuai dengan kebutuhan. Anak merupakan titipan Allah SWT yang harus diasuh dan dijaga dengan baik, dikasihani sebagaimana anak yang sebaya dan yang normal.
KESIMPULAN
Faktor utama yang harus diperhatikan guna keberhasilan dalam pelayanan pe-nyembuhan atau bantuan bagi perkembangan anak autis berhubungan dengan ketepatan da-lam menentukan spesifikasi problem serta kekurangan dan kelebihan yang ada pada anak yang utama yang harus diidentifikasi. Hal ini perlu pengetahuan dan pemahaman serta kejelian atas perkembangan anak dari orang tua apakah sudah sesuai dengan tugas perkembangan anak atau belum. Jika sudah terdeteksi sejak dini tentunya akan semakin cepat proses penangannya Banyak metode dan cara untuk mendidik anak autis.
Tujuan utama dari layanan terhadap anak yang khusus (autis) adalah mengurangi gejala perilaku yang mempengaruhi fungsi perkembangan anak dan mendorong mengembangkan fungsi perkembangan anak seperti mengembangkan kemampuan berbahasa, tingkah laku, penyesuaian diri, sosialisasi, dan ketrampilan bina diri. Jika guru dan orang tua akan mengembangkan program, maka terlebih dahulu tentukan tujuan yang akan dicapai dan dilihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat dicapai anak.
Anak adalah titipan dari Allah SWT yang harus kita jaga, sayangi, rawat, dan memenuhi kebutuhannya dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
DAFTAR RUJUKAN
Ginanjar, Andriana.2000.Gaya Belajar Anak Autis.Makalah Seminar (TidakDiterbitkan). Yayasan Mandiga Jakarta
Handoyo, Y.2003.Autisme.Jakarta : PT. Buana Ilmu Populer
Jawa Pos. 7 Agustus.Visite.2005
Kasih, M..2006. Pengaruh Pemahaman Tentang Autisme Terhadap Penerimaan Ibu Yang Memiliki Anak Autisme Di Pusat Terapi Anak Dengan Kebutuhan Khusus A Plus Malang. Skripsi.(Tidak Diterbitkan).Universitas Wisnuwardhana Malang